Zona Perkembangan Proximal : Teori Perkembangan Sosial Vygotsky
Admin Raksabumi, 25 September 2023
Teori perkembangan sosial Vygotsky mengatakan bahwa komunitas dan bahasa memainkan peran penting dalam pembelajaran. Sementara Jean Piaget menyimpulkan bahwa perkembangan kognitif anak terjadi dalam tahap-tahap, Vygotsky menolak gagasan tersebut dan meyakini bahwa anak-anak berkembang secara independen dari tahap-tahap tertentu sebagai hasil dari interaksi sosial.
Vygotsky mengklaim bahwa kita dilahirkan dengan empat fungsi mental dasar, yakni perhatian, sensasi, persepsi, dan ingatan. Lingkungan sosial dan budaya memungkinkan kita untuk menggunakan keterampilan dasar ini untuk berkembang dan akhirnya memperoleh fungsi mental yang lebih tinggi. Alih-alih menyebutnya sebagai tahapan, Vygotsky lebih suka menyebutnya sebagai zona. Ia membagi proses perkembangan sosial tersebut sebagai Zona Perkembangan Proximal, yang terbagi ke dalam 3 zona.
Zona pertama adalah zona dimana kita belajar tentang kemampuan yang bisa kita lakukan sendiri. Contohnya adalah bernafas dan mengunyah.
Zona kedua adalah zona dimana kita belajar tentang kemampuan yang hanya bisa kita lakukan dengan bantuan orang dewasa, teman, teknologi, atau yang Vygotsky sebut "orang yang lebih berpengetahuan". Contohnya adalah berjalan, bersepeda, berdebat dan seterusnya.
Terakhir, adalah zona kemampuan yang berada di luar jangkauan kita. Contohnya tentu adalah sesuatu yang mustahil kita lakukan sebagai manusia, seperti terbang, menembus dinding, dan membelah diri.
Mitos Pria Tangguh-Wanita Hanya Cantik
Untuk mengilustrasikannya, mari kita bayangkan anak kembar yang dibesarkan dalam komunitas di mana anak laki-laki diharapkan untuk belajar dan berhasil sedangkan anak perempuan hanya diharapkan untuk menjadi cantik.
Pada usia 10 bulan, keduanya memiliki kemampuan merangkak dan berada dalam tahap perkembangan untuk belajar berdiri. Lalu, orang yang lebih berpengetahuan, dalam hal ini ayahnya, memberikan kesempatan pada anak laki-laki untuk berlatih di ruang bermain yang dilengkapi peralatan lengkap. Anak laki-laki didorong untuk menjajal peralatan tersebut dan akhirnya menggunakan semua itu untuk berdiri.
Beberapa jam kemudian, dia berjalan-jalan di sekitar ruangan tersebut, dan beberapa hari kemudian, dia sudah berdiri di atas kakinya. Anak perempuan juga memiliki potensi untuk berdiri. Tetapi, ia tidak menerima dukungan dalam belajar keterampilan tersebut, dari mereka yang lebih berpengetahuan. Ketika kita membandingkan keduanya, kita melihat bahwa sementara anak perempuan masih berusaha untuk bangun, anak laki-laki telah berpindah ke tahap perkembangan yang baru.
Dia tahu cara menyeimbangkan badan ketika berdiri dan sekarang memiliki potensi untuk belajar berjalan. Keduanya kelak pada akhirnya akan belajar berjalan. Tetapi menurut Vygotsky, dalam hal ini, anak laki-laki akan lebih terampil. Prinsip yang sama berlaku untuk semua pembelajaran dan perkembangan fungsi kognitif yang lebih tinggi, dan hanya mereka yang belajar dengan bantuan mentor yang dapat mencapai potensi penuh atas kemampuan mereka.
Oleh karena itu, Vygotsky percaya bahwa di dalam Zona Perkembangan Proximal, pembelajaran dapat mendahului perkembangan, yang berarti bahwa seorang anak dapat belajar keterampilan yang melebihi kematangan alaminya.
Mencerna Dialog, Merangsang Logika
Vygotsky juga membangun hubungan eksplisit antara dialog dengan konsep mental, dengan alasan bahwa dialog batin berkembang dari dialog eksternal melalui proses internalisasi bertahap.
Itu artinya, pemikiran berkembang sebagai hasil dari kematangan dalam mencerna dialog. Oleh karena itu, anak kecil yang tidak menyelesaikan proses ini hanya bisa berpikir keras tanpa memahaminya. Setelah proses ini selesai, dialog batin dan bahasa lisan kelak akan mampu dilakukan secara mandiri.
Lev Vygotsky meninggal karena tuberkulosis pada tahun 1934 pada usia 37 tahun. Meskipun usianya muda, ia menjadi salah satu psikolog paling berpengaruh abad ke-20.
Dia meninggalkan nasihat berikut untuk para pendidik :
Dengan memberi siswa praktik berbicara dengan orang lain, kita memberi mereka kerangka untuk berpikir sendiri.
Bagaimana pendapat Anda? Bisakah seorang anak belajar apa pun tanpa mempertimbangkan prasyarat perkembangan? Apakah Anda sepakat bahwa seorang yang lebih berpengetahuan boleh menentukan apa yang sepatutnya dipelajari oleh seorang anak selanjutnya?