Rent Seeking : Menjadi Kaya tanpa Berbuat Apa-Apa

Admin Raksabumi, 25 September 2023 Rent Seeking : Menjadi Kaya tanpa Berbuat Apa-Apa

Sepanjang masa, permasalahan ekonomi selalu sama, yakni bahwa kebutuhan manusia tidaklah terbatas, sementara faktor pemuas kebutuhan manusia begitu terbatas. 

Untuk itu, maka terjadilah kegiatan ekonomi. Si A memproduksi padi, dan si B beternak hewan. Intinya, seseorang menciptakan, mengolah, mendistribusikan, hingga mempertukarkan sesuatu dengan orang lain yang melakukan pekerjaan serupa, lalu didapatlah alat pemuas kebutuhan tersebut, yang itu bisa berupa barang maupun jasa.

Awalnya, pertukaran tersebut dilakukan dengan cara barter. Lalu kemudian terciptalah uang sebagai representasi nilai, atau harga dari suatu pekerjaan.  Semakin besar kontribusi seseorang untuk dapat memenuhi kebutuhan orang lain, semakin besar pula nilai yang diciptakan. Dan karena nilai itu termanisfestasi dalam harga, maka semakin kayalah seseorang.

Dari hal ini, maka menjadi wajar apobila mereka yang bekerja keras, mereka yang pandai, mereka yang kreatif, menjadi mereka yang paling kaya. 

Akan tetapi, tahukah kamu bahwa ada orang-orang tertentu yang menjadi kaya tanpa pernah berbuat apa-apa? Untuk memahaminya, simaklah cerita berikut : 

Pada suatu hari, di sebuah tanah yang luas dan subur, hiduplah seorang tuan tanah yang telah mewarisi kekayaan, yang bahkan tanpa pernah bekerja sehari pun dalam hidupnya. Namun, meski memiliki segalanya, sang tuan tanah tidak pernah merasa cukup. Dia ingin lebih kaya lagi. Dan untuk itu, dia memiliki ide.

Dia memutuskan untuk memasang pagar di sepanjang sungai yang mengalir melalui tanahnya. Untuk menjalankan rencananya, dia mempekerjakan seorang penagih untuk mengenakan biaya kepada para pemancing yang ingin melewati sungai tersebut. Rantai itu sendiri tidak memberikan manfaat nyata kepada masyarakat. Hal itu semata itu cara bagi sang tuan tanah untuk menghasilkan uang dari sesuatu yang dulunya gratis.

Tindakan ini jelas memiliki dampak. Pertama, nelayan yang dimintai biaya itu, kini harus menjual ikan dengan harga yang lebih tinggi. Akibatnya, harga ikan di pasar naik, dan semua orang merasakannya. Selain itu, ada biaya bagi kesia-siaan di sana, yakni saat sang tuan tanah menginvestasikan uangnya pada rantai dan penagih, dan tidak menggunakannya untuk hal-hal yang lebih bermanfaat bagi masyarakat, hal-hal yang bisa menuntaskan persoalan ekonomi, yakni sesuatu yang menjadi pemuas kebutuhan manusia secara umum.

Pada gilirannya, para nelayan mulai merasa bahwa hal ini tak adil, sebab masih ada sebagian di antara mereka yang bisa memancing tanpa mesti membayar biaya. Karena itu, salah seorang di antara mereka kemudian mencari bantuan dari seorang pelobi. Mereka mengembangkan ide untuk melindungi sungai dengan membangun pagar di sepanjang tepinya, agar tak ada nelayan lain yang menggunakan ‘jalan tikus’ guna menghindari ‘charge’ yang dikenakan.  Sang tuan tanah akhirnya setuju dengan ide tersebut, dan pagar pun dibangun.

Namun, yang terjadi adalah bahwa hanya beberapa nelayan yang dapat mengakses sungai sekarang, yakni nelayan besar yang menciptakan rencana itu, yang kini memiliki lebih banyak ikan daripada sebelumnya. Untuk menjaga agar harga ikan tetap tinggi, mereka membentuk departemen perikanan dengan dukungan kerajaan.  Hanya mereka yang membayar biaya lisensi yang diizinkan untuk memancing di sungai, dan tuan tanah mendapatkan bagian dari keuntungan tersebut.

Akibat ini, harga ikan di pasar menjadi makin mahal lagi. Sebab hanya segelintir pemancing yang bisa mendapat ikan sehingga ketersediaannya menurun, dan harga diatur oleh sekelompok orang yang memiliki lisensi tadi. 

Rakyat secara umum pun mulai mengeluh. Namun, para pelaku ‘kejahatan’ ini tetap menjadi kaya tanpa risiko yang signifikan. Tuan tanah, pelobi, dan nelayan besar menjadi semakin kaya setiap hari. Mereka menciptakan pasar oligopoli, atau bahkan monopoli, hingga kesejahteraan berupa murah dan mudahnya akses mendapatkan ikan tak mengalir ke masyarakat.

Perilaku seperti ini jelas mengurangi efisiensi ekonomi, meningkatkan ketidaksetaraan pendapatan, dan merugikan masyarakat secara keseluruhan. Dalam teori ekonomi, perilaku ini dikenal sebagai perburuan rente atau Rent Seeking. Ekonom Inggris, David Ricardo membangun istilah ini dari gagasan ekonom Skotlandia, Adam Smith. Arti asli dari "sewa" bukanlah pembayaran sewa, tetapi pengelolaan tanah atau sumber daya alam lainnya. Sebagaimana ditulis oleh Adam Smith pada tahun 1776, "Segera setelah tanah di suatu negara menjadi milik pribadi, para tuan tanah mengumpulkan hasil tanah itu tanpa pernah bertani dan menuntut sewa. Kayu hutan, rumput, dan semua hasil bumi, yang, ketika tanah tersebut berada dalam kepemilikan bersama, hanya memakan biaya pekerja untuk mengumpulkannya, sekarang memiliki harga tambahan yang ditetapkan padanya".

"Dia harus membayar lisensi dan harus memberikan sebagian dari apa yang dikumpulkan atau diproduksi oleh tenaganya kepada tuan tanah. Bagian ini merupakan sewa tanah."

Bagaimana dengan Anda, di mana Anda melihat rent-seeker dalam kehidupan sehari-hari? Apakah mereka ada dalam pemerintahan Anda ? Atau apakah Anda melihat mereka di jalanan dalam bentuk gangster atau polisi yang korup? Mungkin Anda bahkan memiliki cerita pribadi Anda sendiri dimana Anda mencari keuntungan tanpa menambahkan nilai apa pun di dalamnya?