Teori Perkembangan Moral Kohlberg, Mengurai Benar-Salah Menurut Persepsi Kita
Admin Raksabumi, 25 September 2023
Teori Lawrence Kohlberg mengklaim bahwa perkembangan penalaran moral kita terjadi dalam enam tahap. Tahap-tahap ini memiliki struktur dalam tiga tingkat, yakni: pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional. Untuk memahami ini lebih baik, bayangkan bahwa terjadi suatu konflik di sekolah. Ada perkelahian di halaman, dua siswa kelas sembilan sedang memukuli Tom. Mereka yang menyaksikan perkelahian ini berada pada tingkat perkembangan moral yang berbeda. Mari kita lihat apa yang mereka lakukan dan bagaimana mereka membenarkan perilaku mereka.
Tahap 1
Pada tahap satu, kita membuat penilaian moral berdasarkan ketaatan dan hukuman. Finn menghubungkan pemahamannya tentang baik dan buruk langsung dengan apakah dia akan dihukum atau tidak. Finn melihat apa yang terjadi pada temannya dan ingin membantu, tetapi dia tidak melakukannya karena takut guru mungkin akan menghukumnya jika dia tertangkap berkelahi. Dia bertanya pada dirinya sendiri, bagaimana saya bisa menghindari hukuman?
Tahap 2
Pada tahap dua, kita dimotivasi oleh kepentingan diri. Mary memutuskan untuk campur tangan dan membantu Tom. Dia tahu bahwa dia mungkin akan dihukum, tetapi dia juga tahu bahwa dia sendiri bisa menjadi korban suatu hari nanti. Jika dia membantu Tom sekarang, mungkin Tom akan membantunya di masa depan. Dia bertanya pada dirinya sendiri, apa yang akan saya dapatkan kelak?
Tahap 3
Pada tahap tiga, kesesuaian interpersonal dan konformitas terhadap norma membimbing penilaian moral kita. Betty melihat perkelahian itu dan ingin campur tangan. Tetapi ketika dia menyadari bahwa semua orang lain hanya menonton, dia memutuskan untuk tidak ikut campur. Dia ingin orang lain melihat bahwa dia adalah gadis baik yang sesuai dengan etika komunitas. Dia bertanya pada dirinya sendiri, apa yang kelak orang lain akan pikirkan tentang saya jika saya melakukan ini dan itu?
Tahap 4
Pada tahap empat, kita menghargai otoritas dan ingin menjaga ketertiban sosial. Ketika guru melihat kelompok itu berkelahi, John segera turun tangan dan berteriak: Berhenti! Berkelahi di sekolah dilarang! Dia merasa bahwa yang paling penting adalah mengikuti aturan, jika tidak, kekacauan akan terjadi. Dia merasa itu adalah kewajibannya untuk menjaga aturan guna menjaga ketertiban masyarakat. Dia bertanya pada dirinya sendiri, bagaimana saya bisa menjaga hukum dan ketertiban?
Tahap 5
Pada tahap lima, kita memahami aturan sebagai kontrak sosial, alih-alih dipandang sebagai perintah yang ketat. Karena itu, Jessie, yang menyaksikan perkelahian itu dari jauh, tidak yakin bagaimana perasaannya tentang ini. Baginya, aturan hanya masuk akal jika mereka melayani tujuan yang tepat. Tentu saja, aturan sekolah melarang berkelahi. Tetapi mungkin Tom pantas mendapat pelajaran akhirnya. Dia bertanya pada dirinya sendiri, apakah aturan benar-benar melayani semua anggota komunitas?
Tahap 6
Pada tahap enam, kita dipandu oleh prinsip etika universal. Dasarnya adalah nurani dan akal sehat. Karenanya, bagi Samuel, selaku Kepala Sekolah, semua yang terlibat harus diadili. Pertama, ia menjelaskan aturan sekolah dan mengapa aturan tersebut ada. Lalu, dia menjelaskan bahwa aturan hanya berlaku jika didasarkan pada keadilan. Dan komitmen terhadap keadilan membawa kewajiban untuk melanggar aturan yang tidak adil. Prinsip moral tertinggi Samuel selaku Kepala Sekolah adalah kasih sayang. Dia percaya bahwa semua orang harus belajar untuk memahami pandangan orang lain dan bahwa mereka tidak merasa sendirian dengan perasaan mereka. Dia bertanya, apa prinsip etika abstrak yang melayani pemahaman saya tentang keadilan?
Pada tingkat pra-konvensional, Finn didorong oleh ketakutan dan Mary oleh kepentingan diri sendiri. Keduanya menilai apa yang benar atau salah berdasarkan konsekuensi berupa untung-rugi yang kelak mereka terima. Bukan berdasarkan norma sosial. Jenis penalaran moral ini umum terjadi pada anak-anak.
Pada tingkat konvensional, Betty merespons tekanan teman sebaya dan guru dengan mengikuti aturan. Moralitas mereka berpusat pada apa yang masyarakat anggap benar. Pada tingkat ini, keadilan aturan jarang dipertanyakan. Ini adalah cara berpikir yang umum selama masa remaja dan dewasa.
Pada tingkat pasca-konvensional, Jessie tahu bahwa hal-hal menjadi rumit karena individu dapat melanggar aturan yang tidak sesuai dengan moralitas mereka sendiri. Kepala sekolah mengikuti gagasan etika universal yang amat berbeda dengan apa yang masyarakat pikirkan atau aturan katakan. Baginya, perilaku yang benar adalah yang sesuai dengan etika universal. Kuncinya satu : Jangan lakukan sesuatu yang bila orang lain lakukan itu padamu, engkau akan tersinggung. Tidak setiap orang mencapai tingkat ini.
Psikolog Amerika, Lawrence Kohlberg mendasarkan karyanya pada teori perkembangan kognitif Piaget. Untuk menguji teorinya tentang tahapan perkembangan moral, Kohlberg mewawancarai anak laki-laki berusia antara 10 hingga 16 tahun. Dia menganalisis bagaimana mereka akan membenarkan keputusan mereka ketika dihadapkan pada dilema moral.
Sekarang kami akan memperkenalkan kepada Anda dilema moral paling terkenal yang Kohlberg berikan kepada murid-muridnya. Mari kita lihat apa yang akan Anda lakukan.
Dilema Heinz: Seorang wanita sedang sekarat. Hanya ada satu obat yang menurut dokter mungkin bisa menyelamatkannya. Apoteker yang membuat obat khusus itu menjualnya sepuluh kali lipat harga produksi. Heinz, suami sang wanita sakit, miskin dan tidak mampu membeli obat itu, bahkan dengan bantuan keuangan dari teman-temannya. Heinz kemudian meminta apoteker untuk menjualnya dengan setengah harga. Tetapi apoteker menolak. Untuk menyelamatkan nyawa istrinya, Heinz kemudian nekat masuk ke laboratorium apoteker itu dan mencuri obatnya.
Sekarang katakan kepada kami: Apakah tindakan Heinz benar? Apakah Heinz akan nekat mencuri bila ia tidak mencintai istrinya? Bagaimana jika yang sekarat bukan istrinya, tetapi orang asing? Apakah polisi seharusnya menangkap apoteker atas tuduhan pembunuhan jika istri Heinz pada akhirnya meninggal?
Penjelasan di atas menggambarkan tahap-tahap perkembangan moral yang diusulkan oleh Lawrence Kohlberg. Tahap-tahap ini membantu kita memahami bagaimana individu memahami dan membenarkan tindakan moral mereka dalam situasi yang berbeda.