Pentingnya Belajar Bahasa bagi Anak-Anak Kita
Admin Raksabumi, 26 September 2023
Di antara seluruh penemuan manusia, tidak ada yang lebih berdampak selain terciptanya bahasa. Sebelum bahasa diciptakan, pengetahuan setiap individu terbatas pada apa yang mereka alami secara langsung. Setelah lahirnya bahasa, barulah seseorang yang mempelajari sesuatu bisa berbagi pengetahuannya dengan orang lain.
Dalam artikel ini, kita akan melihat empat hal yang diketahui tentang pembelajaran bahasa secara umum, dan kemudian mendengarkan kisah tentang Mere dan Hese untuk memahami pentingnya bahasa dalam kehidupan sehari-hari.
Bahasa Hanya Bisa Dipelajari secara Sosial
Dasar otak kita dibangun melalui pengalaman-pengalaman awal dalam hidup. Pat Levitt dari Center of the Developing Child di Harvard University telah mempelajari perkembangan otak kita sepanjang hidup dengan cermat.
Dia menunjukkan bagaimana kemampuan otak berubah secara dramatis menurun dari tahun ke tahun seiring laju kehidupan. Sementara itu, jumlah usaha yang diperlukan untuk peningkatan kemampuan semakin meningkat. Penelitian lain menunjukkan bahwa pada usia lima tahun, 90% otak anak telah terbentuk. Jika selama tahun-tahun ini anak terhalang dari pengalaman yang merangsang, pusat bahasa dan bagian otak lainnya cenderung tetap lemah sepanjang hidup.
Kita belajar bahasa secara sosial dengan mengamati dan meniru orang lain. Sekitar 1.000 tahun yang lalu, Kaisar Jerman, Friedrich II, ingin membuktikan sebaliknya dan menunjukkan bahwa kita mengembangkan bahasa secara alami, sendiri-sendiri tanpa bantuan orang lain. Dia kemudian memerintahkan pengasuhnya untuk membesarkan beberapa anak tanpa interaksi sosial atau berbicara satu kata pun. Dan yang terjadi adalah tak satu pun anak yang belajar berbicara, hingga kemudian mereka semua meninggal.
Dengan alasan yang sama, anak-anak kecil tidak dapat belajar bahasa melalui rekaman atau teknologi. Mereka perlu motivasi melalui hubungan manusia, untuk bisa memperhatikan dan belajar.
Bahasa dan Kecerdasan Anak
Pertumbuhan otak bahasa kita yang paling kuat terjadi pada tahun pertama. Jika kita mempelajari perkembangan otak dengan laju pembentukan sinapsis, maka baru selama 11 bulan pertama kehidupan, dan kemudian 15 tahun berikutnya, kita dapat melihat betapa pentingnya 5 tahun pertama dalam hidup.
Pertumbuhan pada bagian otak yang bertanggung jawab atas bahasa mencapai puncaknya antara masa kelahiran hingga usia 3 tahun. Selama periode kritis ini, anak-anak dapat belajar kata baru setiap 90 menit dan beberapa bahasa secara bersamaan. Jalur sensorik kita yang bertanggung jawab atas penglihatan dan pendengaran mencapai puncaknya lebih dulu, karena kita perlu melihat dan mendengar untuk meniru bahasa.
Misalnya, bayi berusia empat bulan yang dibesarkan secara bilingual oleh ibu berkebangsaan Inggris dan ayah berkebangsaan Tiongkok sudah dapat membedakan dua bahasa hanya dengan mengamati gerakan bibir pengasuh mereka. Fungsi kognitif tingkat tinggi seperti penalaran logis mencapai puncaknya hanya setelah kita memiliki kata-kata dan tahu simbol-simbol untuk memahami dunia kita.
Bahasa pembentuk dunia kita: Keterampilan bahasa yang baik memungkinkan kita untuk mendengarkan dengan baik, berbicara dengan baik, menikmati membaca, dan menguasai menulis. Hal-hal itulah yang membentuk dunia di kita. Seperti yang dikatakan filsuf Jerman, Wittgenstein: Batas bahasa saya adalah batas dunia saya.
Hese vs Mere Belajar Bahasa
Sekarang mari kita dengarkan kisah tentang Hese dan Mere, dua anak yang dibesarkan dengan cara yang sangat berbeda.
Hese dibesarkan oleh ibunya. Ibu ini adalah penutur asli bahasa Inggris yang rata-rata menguasi sekitar 20.000 kata yang berbeda.
Sementara itu, orangtua Mere menyewa seorang pengasuh dari luar negeri. Alih-alih berbicara dalam bahasa aslinya, pengasuh itu diperintahkan untuk berbicara hanya dalam bahasa Inggris kepada sang anak. Meskipun bahasa Inggris sehari-harinya terlihat baik, sebenarnya dia hanya tahu sekitar 5.000 kata. Seperempat dari apa yang diketahui oleh Bunda Hese.
Tahun pertama adalah saat yang paling kuat bagi otak bahasa untuk berkembang.
Ketika Hese bangun dan mendengar Ibunya berbicara, dia akan mendengar sekitar 10.000 kata per hari dan mungkin 2.500 di antaranya ditujukan khusus padanya. Bahasa yang ditujukan adalah yang penting. Setiap kali ibunya menghubungkan kata dengan pengalaman nyata, Hese belajar memaknainya.
Di sisi lain, Mere hanya mendengar bahasa Inggris ketika pengasuh dengan sengaja berbicara padanya. Itu pun hanya sekitar 1.000 kata sehari. Tak hanya jumlahnya yang lebih sedikit, kualitasnya juga kurang baik.
Karena pengasuh tidak lancar berbahasa Inggris, ada kemungkinan bahwa banyak kata yang terdengar samar. Pada ulang tahun pertama mereka, kedua anak bisa mengatakan "mama" dan "papa". Satu hal yang tidak terlihat adalah bahwa Hese sebenarnya sudah tahu banyak kata meskipun dia belum bisa mengucapkannya. Tetapi kosa kata Mere masihlah terbatas.
Ketika Hese dan ibunya melihat buku gambar, Ibunya menunjukkan apa yang mereka lihat: seekor monyet kecil, yang berbeda dengan gorila, hewan cerdas yang menggunakan alat untuk naik pohon, dan tinggal dengan mama dan papa-nya di hutan hujan Afrika. Ketika Mere melihat buku gambar, pembelajarannya terbatas hanya pada ‘Monkey’, yang lucu dan makan pisang. Tanpa ‘Gorila’, dan apalagi detail teknis lain sebagai akibat dari terbatasnya kosa kata Pengasuh.
Sebagai kompensasi dari ketidakhadirannya selama tumbuh kembang anak, orangtua Mere memberinya aplikasi bahasa. Tetapi karena Mere tidak memiliki dasar, dia tidak mengerti sepatah kata pun. Baginya, itu hanya sekelompok suara baru yang aneh, yang terhubung dengan kartun berwarna.
Pada ulang tahun kedua mereka, Hese sudah tahu lebih dari 200 kata, jumlah di mana anak-anak mulai belajar aturan dan menerapkan tata bahasa. Hese hanya tahu sedikit di antaranya. Akibat itu, terkadang dia frustrasi karena tidak bisa mengungkapkan perasaannya sendiri.
Hese kini suka pergi ke taman dengan ibunya. Kadang-kadang, di sana, mereka menonton para Kakek bermain catur. Dia tidak mengerti permainannya, tetapi tahu bahwa ada bidak, benteng, kuda, ratu, raja, uskup dan kuda. Suatu hari nanti dia akan belajar tentang aturan-aturannya. Hal itu kelak akan dipelajarinya dengan mudah karena dia telah mampu melihat setiap figur dengan jelas. Pemahamannya tentang kemampuan khusus para maskot catur itu akan mengantarkannya pada pemahaman atas hal lain yang lebih kompleks.
Untuk Mere yang kekurangan paparan bahasa, dia hanya melihat papan catur besar dan beberapa figur kayu yang semuanya terlihat cukup sama: bidak, kuda, uskup. Untuk memahami aturan catur, kelak Mere akan kesulitan. Karena semua figur terlihat begitu mirip, bagaimana bisa mereka melakukan fungsi yang berbeda?
Pada ulang tahun ketiga, Hese dan Mere dapat mengucapkan nama mereka sendiri dan membentuk kalimat. Kosakata Hese sekarang mencakup 1.500 kata. Sementara Mere baru memiliki 500 kata untuk memahami dunia ini.
Di tahun keempat, mereka masuk ke Taman Kanak-Kanak. Ketika Mere berdiri di depan rak besar, dia melihat berbagai blok kayu, bola, mainan lama, kuda, dan penggali tanah. Ketika Hese berdiri di depan rak yang sama, dia melihat lingkaran, segitiga, persegi, bola basket, kincir angin merah, kuda goyang berwarna krem, dan kotak karton penggali lego technic.
Selama bermain, Hese memahami apa yang sedang dibicarakan orang lain dan sering memimpin dengan mengusulkan ide baru. Mere sering tidak mengerti apa yang dimaksud teman-temannya. Jika kelompoknya membahas sesuatu agak lama, dia menjadi tidak fokus karena sulit mengikuti percakapan.
Pentingnya Dongeng Bagi Anak
Pada akhir tahun itu, Hese tahu 3.500 kata, sementara Mere hanya tahu 1.000 kata. Hese sekarang mampu membentuk kalimat yang lebih rumit dengan tata bahasa yang sempurna. Sebab di malam hari, Ibunya kerap membacakan cerita sebelum tidur. Kata-kata yang dia tidak mengerti, dia pelajari dari konteks. Sebagai penutur asli, Ibunya dapat meningkatkan dan menurunkan intonasi suaranya, sehingga membuat cerita-cerita itu menjadi seru.
Sementara cerita dongeng telah menjadi hidup di kepala Hese, sehingga dia belajar untuk membayangkan dan berpikir kreatif, Mere justru masih berbicara dalam kalimat yang lebih sederhana dan tata bahasa yang tidak sempurna. Ketika Pengasuhnya membacakan cerita, suaranya lebih monoton. Membosankan dan sulit untuk dipahami. Kata-kata yang dia tidak mengerti, sering tetap tidak dimengerti.
Pada akhir tahun itu, Hese tahu 6.000 kata dan Mere tahu 2.000 kata. Untuk memahami mengapa terjadi perbedaan dalam kemampuan berbahasa di antara keduanya, mari bayangkan bahwa kata-kata adalah alat yang membantu kita membentuk dunia, sebagai bahan baku pikiran, struktur bangunan ide, dan peluru komunikasi dengan orang lain. Karena itu, dengan 6.000 kata yang dikuasainya, kotak alat atau bahan baku pikiran Hese sekarang tiga kali lebih banyak dibanding Mere. Akibatnya, Hese memiliki keunggulan pesat saat memasuki Sekolah Dasar.
Albert Einstein punya sebuah anekdot menarik yang berkisah seperti ini: Ketika masih kecil dia hampir tidak pernah berbicara sampai usia tujuh tahun, orangtuanya khawatir dan mencoba banyak hal untuk membuatnya berbicara. Mereka khawatir bahwa anaknya memiliki gangguan belajar. Akan tetapi, akhirnya, di meja makan suatu malam, dia memecahkan keheningan dengan mengatakan: "Sup ini terlalu panas!". Dengan menghela nafas panjang, orangtuanya pun lega, lalu bertanya : Mengapa dirimu tak pernah mengatakan apapun sebelumnya? Sang jenius muda menjawab: "Karena sampai sekarang, semuanya berjalan dengan baik”.
Apa pendapat Anda tentang pembelajaran bahasa? Apakah seseorang seperti Mere masih bisa mengejar ketertinggalannya kelak dalam hidupnya yang dewasa? Atau mungkin, ia akan menemukan cara lain yang lebih baik untuk mengekspresikan dirinya? Atau mungkin, sudut pandang kita terlalu sempit, dalam arti bahwa keduanya sama-sama cerdas. Hanya saja, jenis kecerdasannya memang berbeda?